RyZack's Blog

My Life, My Puzzle!

Petasan Ramadhan Bukan Tradisi Sebenarnya

with 7 comments

Sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat menunaikan Ibadah Puasa (bagi yang melaksanakan) kepada para pengunjung blog terlantar ini, terutama yang sering berkunjung dengan rasa kecewa karena pada saat itu saya belum menyempatkan diri untuk update tulisan. Cukup mengherankan ketika melihat naiknya traffic pengunjung, padahal blog ini masih kosong. 🙄

Bunyi petasan “tak diundang” ketika menjelang Ramadhan tiba, bukanlah hal yang asing terdengar ditelinga. Sambaran bunyi petasan bisa saja terdengar pada siang hari, sore hari, bahkan pada malam hari ketika waktu untuk melaksanakan shalat tarawih di masjid, bunyi ledakkan itu semakin menjadi-jadi. Tak aneh jika suara teriakan Pak Haji sama-sama menggelegar ketika mengusir para maniak petasan dari masjid yang didominasi oleh anak kecil. Sesudah sahur pun ada saja beberapa anak yang rela menghabiskan waktunya dengan melemparkan petasan seenaknya dan tanpa memikirkan akibatnya.

“Petasan (mercon) terdiri dari bahan peledak bubuk kimia yang dikemas pada lapisan kertas.”

Tidak hanya kalangan anak-anak yang memainkannya, kalangan dewasa pun ikut serta bermain-main dengan peledak berdaya rendah (low explosive) ini. Selain eksis di bulan Ramadhan, petasan juga biasa hadir memeriahkan perayaan-perayaan seperti tahun baru, pernikahan, dan sebagainya. Sehingga secara tidak langsung petasan atau yang biasa dikenal dengan mercon ini dijadikan tradisi di Indonesia.

Awal Mula Ditemukan Petasan

Menurut informasi yang saya dapatkan, bubuk mesiu sebagai bahan dasar petasan pertama kali ditemukan oleh orang Cina pada masa Dinasti Sung (960 – 1279) sekitar abad ke-9, yang merupakan campuran dari potasium nitrat, sulfur, charcoal, lalu digabungkan dengan oksigen, sehingga menimbulkan ledakan dan semburan cahaya.

Didaerah asalnya (Cina), mesiu digunakan berdasarkan keyakinan spiritual, yakni mengusir roh-roh jahat yang mengganggu ketika perayaan seperti Peh Cun, pernikahan atau tradisi Cina lainnya sedang berlangsung.

Adaptasi Budaya

Ketika etnis Tiong Hoa ini berkunjung ke Batavia dengan membawa tradisi mesiu-nya, orang-orang Betawi pun mulai meniru tradisi tersebut hingga saat ini.

“Petasan memiliki arti simbolis dalam tradisi Cina maupun Betawi yaitu sebagai alat komunikasi untuk memberitahukan para undangan dan khalayak ramai bahwa perayaan sedang berlangsung”, menurut Alwi Shahab, Sejarawan Betawi.

Lalu memandang bulan Ramadhan sebagai ritual yang harus dirayakan secara khusus dengan diwarnai kemeriahan.

Kelestarian Tradisi Petasan

Beberapa penyebab lestarinya tradisi tiong hoa ini karena untuk mendapatkan bahan-bahan petasannya cukup mudah didapatkan, belum lagi dengan harganya yang terjangkau. 🙄

Dan katanya di Parung Panjang, sebelah barat kota Serpong, sampai saat ini terkenal sebagai pusat penghasil petasan terbesar di Indonesia.

Larangan di Indonesia

Dampak buruknya bisa terjadi sangat-sangat fatal. Banyak pemberitaan baru bermunculan di berbagai media tentang kecelakaan yang disebabkan oleh petasan, seperti mobil terbakar dan meledak, jari tangan bocah nyaris remuk dan hal buruk lainnya yang tidak diinginkan sama sekali!

“Hanya kembang api yang boleh digunakan. Itu pun harus sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan, yakni kembang api dengan mesiu seberat 20 mg dan berdiameter maksimum dua inchi”, tukas Kombes Baharuddin.

Pemerintah pun mengambil tindakan dengan mengeluarkan berbagai macam peraturan, diantaranya UU Darurat 1951 yang “katanya” memiliki ancaman 10 tahun penjara dan bisa mencapai 18 tahun penjara. 😯

Referensi diambil dari wikipedia dan facebook oleh Al Firqotuun An Najiyah.

Gambar diambil dari msn.com

— RyZack

Advertisements

Written by RyZack

August 20, 2010 at 3:36 pm

7 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. di kampung dulu tiap bulan puasa siang2 pasti banyak anak yg main petasan di kampung, bikin kaget lewat dan ga jarang godain anjing. Kalo ngeliat yg kaya gitu rasanya pengen lemparin balik tuh petasan ke mukanya 😡

    TamaGO

    August 20, 2010 at 4:19 pm

    • Mungkin sengaja kali ya, anak kecil buat kerusuhan kaya gitu, biar bisa ngelatih yang lagi berpuasa untuk bersabar, hahaha

      Tapi kasian juga kalau misalkan orang yang jantungan, lagi lewat tahu-tahu kaget denger petasan, terus pingsan 😡

      RyZack

      August 21, 2010 at 9:43 am

  2. wahhh
    gw baru tau kali ada festival Peh Cun
    ahahaha…
    kocak juga yha…
    teryata petasan bukan asli buat ramadhan

    pantesan di arap gw gak denger ada petasan pas teraweh
    :V

    arfgan

    August 20, 2010 at 10:49 pm

    • Arab? iya donk, terawehan di Arab kalah rame sama di Indonesia, haha 😀

      RyZack

      August 21, 2010 at 9:40 am

  3. Uho~~ Uhoo~~ Nah, itu yang bisa buat kecelakaan fatal. Lebih baik kembang api, sesuai namanya yang bagus. Daripada petasan yang suaranya kaya bom dalam air *emang bisa? :lol:* Tapi Ayas suka juga sih sama mercon kecil-kecil dan kaya amggur itu, suaranya Ayas suka ^^

    deq

    August 22, 2010 at 8:05 am

  4. Waktu masih anak-anak, saya suka sekali main petasan saat lebaran. Petasn cabe tuh yg kecil-kecl, itu biasa saya bawa di mobil waktu takbiran hahahaa…. Sampe pernah keburu meledak di tangan padahal blm dilempar keluar hehehe…

    zee

    August 31, 2010 at 8:05 am

    • Kalo ga salah, di negara tempat asal mula petasan itu ditemukan.. justru yang dinikmati dari petasan itu adalah “suaranya” yang bikin jantungan itu.. Malahan diadakan perlombaan memegang petasan.

      Berbanding terbalik ya sama kita, yang cara pakenya tuh dilemparin ke orang, terus tutup kuping 😆

      RyZack

      August 31, 2010 at 8:36 am


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: